Seperti yang dirumuskan dalam AD IMM, tujuan
didirikannya IMM adalah: “Mengusahakan terbentuknya akademisi muslim yang
berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”. Tujuan ini
kemudian dijabarkan dalam bentuk misi yang wajib diemban oleh setiap kader
ikatan yang terdiri dari misi keagamaan, keintelektualan, dan kemasyarakatan.
Visi adalah “seperangkat pengetahuan yang diyakini
kebenarannya yang akan memberi arahan tujuan yang akan dicapai sekaligus
memberi arahan proses untuk mencapai tujuan”. Dalam konseptualisasi gerakan ini
visi yang dicita-citakan harus senantiasa terpelihara secara kokoh di dalam “state
of mine” kader-kader persyarikatan yang dibina oleh Ikatan sebagai bentuk
pelestarian dokrin dan loyalitas kelembagaan. Dengan demikian integrasi dari
misi dan visi ikatan ini menjadi mainstream yang secara komunalitas akan
membingkai kader-kader Ikatan dalam satu kerangka keseragaman paradigmatik atau
pola pikir yang dikembangkan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
Misi dan Visi gerakan IMM tertuang dalam Tri
Cita Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah :
- Keagamaan
(religiusitas)
Sebagai organisasi kader yang berintikan nilai-nilai
religiusitas, IMM senantiasa memberikan pembaruan keagamaan menyangkut
pemahaman pemikiran dan realisasinya, dengan kata lain menolak kejumudan.
Menjadikan Islam dalam setiap proses sebagai idealitas sekaligus jiwa yang
menggerakkan. Motto yang harus diaktualisasikan adalah :
“Dari Islam kita berangkat (landasan & semangat)
dan kepada islam lah kita berproses (sebagai cita-cita)”
- Keintelektualan
(Intelektualitas)
Dalam tataran intelektual IMM berproses untuk menjadi
“centre of excellent”, pusat-pusat keunggulan terutama sisi intelektual.
Organisasi ini diharapkan mampu menjadi sumber ide-ide segar pembaharuan.
Sebagai kelompok intelektual, kader IMM harus berpikir universal tanpa sekat
eksklusivisme. Produk-produk pemikirannya tidak bernuansa kepentingan kelompok
dan harus bisa menjadi rahmat untuk semua umat.
- Kemasyarakatan
(humanitas)
Perubahan tidak dapat terwujud hanya dengan segudang
konsepsi. Yang tak kalah pentingnya adalah perjuangan untuk mewujudkan
idealitas (manifestasi gerakan). Kader IMM harus senantiasa berorientasi
objektif, agar idealitas dapat diwujudkan dalam realitas. Namun perlu dicatat,
membangun peradaban tidak dapat dilakukan sendirian (eksclusif), dalam
arti kita harus menerima dialog dan bekerjasama dengan kekuatan lain dalam
perjuangan.
Profil Kader IMM
Tiga kompetensi dasar di atas harus terinternalisasi
melalui proses dan kultur IMM. Indikasi dari terpenuhinya kemampuan-kemampuan
tersebut dapat dinilai dari 3 kadar indikator, yaitu:
1) Kompetensi Dasar Keagamaan
- Akidah
yang terimplementasi.
- Tertib
dalam ibadah.
- Menggembirakan
dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar.
- Akhlaqul
karimah.
2) Kompetensi Dasar Keintelektualan
- Kemampuan
bersikap rasional dan logis.
- Ketekunan
dalam kajian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
- Pengembangan
kemampuan manajerial.
- Terbuka
terhadap pandangan baru.
- Memiliki
tanggung jawab sosial dengan mengembangkan kesadaran ilmiah.
3) Kompetensi dasar Humanis atau Kerakyatan
- Agamis
dan senantiasa setia terhadap keyakinan dan cita-cita.
- Rasa
solidaritas sosial.
- Sikap
kepemimpinan sosial dan kepeloporan.
- Bersikap
kritis terhadap diri dan lingkungan.
- Kedewasaan
sikap yang tercermin dari kedalaman wawasan.
- Berpribadi
Muhammadiyah.